Dongeng Anak - The Adventure of Fulan Part I

Sebuah percobaan membuat cerita dongeng.. 

Satu tahun yang lalu aku mencoba membuat cerita dongeng anak-anak. Ternyata lebih sulit dari yang kuduga. Selain mencoba mengatasi keengganan untuk menulis, writer’s block dan kedisiplinan untuk menyelesaikan cerita sampai akhir, aku juga kesulitan tentang isi ceritanya. Ada seorang penulis besar bilang kira-kira seperti ini, “Kalau hanya cocok dibaca untuk anak-anak, maka cerita itu gagal”. Maka kira-kira maksudnya: selain bisa dinikmati anak-anak, cerita itu setidaknya juga bisa dinikmati orang dewasa. Mungkin. Dan setelah berusaha keras, akhirnya jadi juga. Tak tahu ini cerita bagus atau tidak. Tapi… Ya sudahlah.
 

 ---------------------------------------------------------------------------------
The Adventure of  Fulan

I
Stage I
Dahulu kala, saat  manusia dan hewan-hewan masih hidup berdampingan dan berbicara dalam bahasa yang sama dan hampir memiliki ukuran tubuh yang sama, tidak ada yang benar-benar tinggi, besar, kecil atau kerdil, Tersebutlah seorang pemuda bernama Fulan. Mulanya ia seorang pemuda dari keluarga kaya dan bahagia. Orangtuanya adalah saudagar dan pedagang yang sangat menyayangi Fulan. Cita-cita Fulan adalah suatu hari dapat menikahi Putri raja yang cantik. Namun suatu hari, bencana menerpa. Kapal yang ditumpangi orangtuanya saat berdagang sekaligus berlibur ke negeri tetangga karam diterjang badai. Tidak ada yang selamat. Fulan sangat sedih dengan kematian mereka. Harta peninggalan orangtuanya hanyalah rumah satu-satunya beserta isinya. Karena tak memiliki sanak keluarga satupun, ia memutuskan menjual rumahnya dan berkeliling berpetualang mewujudkan mimpinya. Satu-satunya yang tak ia jual adalah kalung medali bermotif ulat pemberian almarhum Ayahnya. Ayahnya bilang: ia mendapatkannya saat berdagang di sebuah negeri jauh.
            Petualangan dimulai. Hutan, Sungai, lembah dan gunung yang luas dan berliku dilaluinya tanpa mengeluh. Saat ia lelah dan lapar ia beristirahat dan mendirikan tenda serta mencari buah-buahan. Kalau dulu, segala makanannya disediakan oleh pelayan, sekarang ia harus mencari sendiri.
Tibalah ia di sebuah kota kumuh. Dan malang, disana ia dirampok oleh segerombolan kawanan Preman Kecoa. Fulan tak bisa berbuat apa-apa. Harta hasil penjualan rumahnya ikut dirampas. Untunglah kalung medali tidak ikut terambil. Dengan bermodalkan pakaian yang melekat di badan ia meneruskan perjalanannya. Sampailah ia di hutan. Ia lalu mencoba mencari buah-buahan yang bisa dimakan. Ketika ia mencoba mengambil buah di pohon, rantingnya patah dan ia terjatuh pingsan.
            Saat sadar ia ternyata telah berada di sebuah kamar. Fulan tak mengenal tempat itu dan merasa aneh karena dinding-dindingnya terbuat dari bahan yang tak ia ketahui. Sepertinya terbuat dari pasir padat. Saat ia melihat keluar, ternyata ia berada di semacam kastil. Fulan kemudian mengetahui kastil pasir itu milik Kerajaan Koloni Semut yang dipimpin oleh seorang Ratu. Disana ia lalu diberi makan dan ditanyai bagaiman nasibnya sampai terlantar pingsan di tengah hutan. Fulan meceritakan perjalanannya, Akhirnya Fulan memutuskan menetap di koloni Semut itu  setelah diijinkan tinggal oleh Sang Ratu. Ia sangat takjub dengan kastil itu yang terletak di tengah hutan, tinggi kokoh sehingga aman dari serangan makhluk liar dari luar. Kastil itu juga sangat luas dan memiliki ratusan ruangan yang hampir semuanya terhubung. Ada pula ruangan besar di mana mereka berkumpul bersama pada waktu-waktu tertentu. Fulan lalu belajar cara beternak, mengambil susu, menjahit, bertani, mengumpulkan makanan, dan bekerjasama membantu membangun dan memperbaiki kastil. Tapi hal yang paling disukainya adalah belajar memainkan senjata dan menjadi prajurit koloni sehingga dapat melindungi teman-temannya. Bila saling bertemu, mereka saling menggosokkan hidung dan menyapa. Kebiasaan yang mulanya aneh baginya. Fulan sangat kagum dengan para penghuni koloni yang sangat kuat dan perkasa, mereka mampu mengangkat beban yang beratnya berkali-kali tubuhnya. Hal yang tak bisa disamainya. Mereka juga sangat rajin bekerja dan tepat waktu. Dari anak manja sekarang ia belajar hidup mandiri dan disiplin. Para penghuni koloni sangat ramah dan baik hati padanya dan sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. “Kita semua ciptaan Dewata maka kita semua keluarga. Bahkan kau tahu? Teman kita yang terbang dan membangun sarang di tempat tinggi, yaitu Tawon, kami adalah keturunan jauh leluhurnya” kata seekor semut ketika berbincang dengannya. Namun, meski senang bekerja keras dan rajin, keluarga para koloni semut memiliki kebiasaan buruk. Mereka sering membuang sampah sembarangan dan serakah dalam mengambil hasil hutan. Salah satu Tetua Semut sering memperingatkan para penghuni koloni agar tidak merusak hutan dan menebang secara liar karena dapat memancing kemarahan Dewata. Tapi ia tak dihiraukan dan hanya dianggap orang tua yang bawel.
Bila senja hari, Fulan sering berada di puncak kastil memandangi hutan dan memikirkan nasibnya kini. Dari putra saudagar kaya menjadi anggota koloni semut. Dari memiliki keluarga yang hanya beranggotakan 3 orang, sekarang ia malah memiliki anggota keluarga ribuan orang yang hidup harmonis, rapi dan setiap orang mematuhi peraturan-peraturan yang ada. Ia memegang kalung medalinya dan teringat orangtuanya. Ia sangat sedih, tapi kemudian ia bersyukur karena untuk pertama kalinya setelah ia meninggalkan rumah, Fulan merasa mendapatkan keluarga baru. Ia  lalu mulai melupakan impian awalnya.
            Namun, sekali lagi bencana menerpa. Pada suatu waktu, hujan deras turun berhari-hari tak kunjung berhenti. Guntur dan petir menyambar. Air sungai mulai meluap. Para penghuni koloni berusaha sekuat tenaga memperkokoh kastil mereka mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Tapi air sungai mulai tak kuat menampung air dan banjir besar datang. Banjir itu ikut serta membawa pepohonan dan kotoran serta sampah. Tanah perbukitan longsor. Kastil terendam banjir. Para semut banyak yang tewas dan hilang terseret banjir bandang. Sisanya mulai mengemasi barang dan mengungsi tak terkecuali Fulan. “Ini hukuman. Hukuman dari sang Dewata,” teriak seorang Tetua Semut diantara para semut yang panik. “Dewata memberikan banjir ini karena kita terlalu serakah dan tamak. Kita menebang pepohonan dan mengambil semuanya dari hutan tanpa berusaha menanam dan merawatnya kembali. Ini hukuman !. Sudah kukatakan pada kalian semua!!” teriaknya terakhir sebelum sosoknya menghilang terseret banjir. Semua yang mendengar dan menyaksikan itu terhenyak, terkejut dan hanya bisa menyesal.
                        Fulan juga ikut terseret dari banjir bandang tapi berhasil selamat dari  bandang setelah berpegangan pada sebatang pohon. Ia terdampar jauh dari kastil tapi masih hidup. Fulan sangat sedih dengan nasibnya dan terutama keluarga barunya. Ia tak mengenal daerah itu tapi ia memutuskan melanjutkan perjalanannya. Tanpa disadari Fulan, kalung medalinya yang bermotif ulat tiba-tiba berubah menjadi kepompong.

Stage 1 Ends, Stage 2 Begins
            Di tengah perjalanan ia bertemu seeekor Kuda Pengelana yang kakinya terjepit jebakan beruang. Fulan menolongnya dan membebat kakinya. Sang Kuda sangat berterimakasih. Mereka berkenalan dan segera menjadi teman seperjalanan yang sangat akrab. Kuda Pengelana menawarkan dirinya menemani Fulan berpetualang sebagai balas budi menolong hidupnya. Fulan gembira mendapatkan teman baru. Mereka melanjutkan perjalanan berdua dan kemudian sampai di sebuah kerajaan lain yang dipimpin seorang Raja Manusia bernama Martabumi.
            Alkisah, Baginda Martabumi waktu itu jatuh sakit. Tabib istana tidak berhasil menemukan obatnya. Putri Rania, anaknya sangat sedih melihat keadaan ayahandanaya. Suatu malam, Baginda Martabumi berkata kepada putrinya, “Rania, anakku, ayah bermimpi berada dipuncak gunung. Di puncak gunung itu ada sabana rumput, dan ditengahnya tumbuh taman bunga dengan beraneka ragam bunga yang indah. Namun, satu yang paling indah adalah bunga Anggrek yang sedang dihinggapi sebuah Kupu-kupu Raksasa. Kupu-kupu itu berwarna-warni sangat indah. Sedang Bunga Anggrek itu ajaibnya dapat berubah-ubah  warnanya. Berkilau indah sekali. Ketika kudekati, oh tiba-tiba saja Ayah terbangun. Aku sangat ingin memilikinya”. Menurut penasihat istana, mungkin inilah petunjuk dari Dewata bahwa bunga itulah satu-satunya bahan yang dapat mengobati sang Raja. “Bunga itu bernama Bunga Anggrek Air Mata Pelangi, Baginda. Sangat langka karena hanya tumbuh sekali dalam beberapa tahun dan ditempat tertentu. Bunga itu juga hanya berumur sehari. Dari perhitungan almanak saya berdasarkan terakhir kali bunga ini terlihat mekar, bunga itu memang akan tumbuh lima hari lagi. Mengenai tempat dalam mimpi Baginda, saya rasa itu adalah Bukit Lima Deretan yang letaknya cukup jauh dari sini. Kita harus bergerak cepat bila kita ingin mendapatkannya Baginda.”

Bersambung ke Part 2

Tragedi Sandal Yang Tertukar

July 2012
Bulan Puasa

Ada sebuah lelucon lama kalau pergi shalat jumat ke masjid. Berangkat bawa sandal jepit, pulang bawa sandal bata. Iya, begitu parahnya kasus pencurian dan pertukaran illegal sandal gelap di masjid ini. Rupanya setelah menghadap Tuhan, tidak mencegah pihak-pihak yang terlibat untuk tidak melestarikan tradisi gelap ini. Aku juga sering mengalami. Berangkat bawa sandal jepit, pulang bawa Mercy. Mersikil. Nyeker telanjang kaki. Jadi sudah rahasia umum, kalau pergi ke masjid, nggak usah pake sandal bagus-bagus amat. Takut dicuri. Kalau pun memaksa, lihat gambar di bawah untuk tips efektif agar tidak kemalingan:

Dan beberapa hari yang lalu, tragedi lain pencurian sandal kembali terjadi. Padaku. Kali ini aku bukan sebagai korban, tapi pelaku. Iya pelaku.
Jadi gini, kemarin malam ada acara buka bersama ama temen-temen kampus. Secara di kontrakan aku hanya punya sandal jepit, aku pinjem deh sandal kulit ama temen satu kontrakan. Lalu aku berangkat. Buka bersama di sebuah rumah makan berjalan lancar. Lalu diselingi shalat maghrib di dekat mushalla yang disediain rumah makan tersebut. Dan disinilah kisah pertukaran illegal ini dimulai. Abiz shalat maghrib dan mau keluar, sifat pelupa akutku muncul. Aku lupa tadi sandal yang kupinjam dari temen kontrakan tadi kayak gimana. Dan di depan teras itu ada dua tipe sandal sepatu. Satu tipe slop, satunya tipe dijepit. Aku termenung dua menit lamanya. Bingung dan mencoba mengingat-ingat. “Tadi aku make sandal kayak apa, ya?”. Disamping kananku ada anak kecil berdiri ngeliatin melulu. Mungkin dia heran, apa yang dilakuin cowok cupu berkacamata lagi garuk-garuk kepala dan bertelanjang kaki berdiri di depan teras. Aku menyerah. Aku bener-bener lupa. Mengandalkan firasat untung-untungan, aku akhirnya ngambil sandal tipe yang dijepit. Aku lega. Lalu kembali ke meja makan. Kasus sepertinya telah selesai.
Pulangnya untuk memastikan, aku tanya ama temen kontrakan yang sandalnya kupinjam tadi.
“Ko, iki mau sandal sing tak silih yo?”
“Gatheli, duduk cik”. Ternyata bukan. Firasatku salah. Aku keliru ambil milik orang.
Kasus belum selesai. Aku membeku. Garuk-garuk kepala. Waktu berhenti. Dunia terasa runtuh. Oke, itu lebay.
Tapi perasaanku nggak keruan. Another silly action of me happened again. Crap. Sambil memegangi kepaala dengan kedua tangan, aku terus menrus bertanya dalam hati, ”Why, oh why?”.
Setidaknya ada dua korban dalam kasus ini:
Satu : temen kontrakanku, sandal kulitnya yang masih bagus harus direlakan pergi selamanya dihitung mulai bulan puasa tahun ini. Innalillahi. Sorry ya bro, aku nyesel banget. :(
Dua : pemilik sandal yang (tak sengaja) kuambil tadi. Pikirnya mungkin, “Ya Allah, kok yo cek kebacute. Poso-poso jek ono sing nyolong sandal” Ya Allah, kok ya tega. Puasa gini masih ada yang nyuri sandal. Is it devil not jailed?. Kemungkinan berkaitan dengan sandalnya yang hilang msterius, pemiliknya kalau tidak ngambil sandal yang tadi kupake yang harusnya milik temenku, ya memutuskan pulang nyeker jalan kaki. Kesian. :( . Aku lebih berharap pada kemungkinan pertama, setidaknya ada kesempatan dan harapan, sandal yang tertukar bisa kembali pulang.
So, untuk pemilik sandal di luar sana yang “kucuri”, from the bottom of my heart, I really really sorry. Saya sungguh merasa bodoh dan berdosa. -_____-
Oh ya lupa (!), omong-omong lokasi kejadian ini adalah di Rumah Makan Lesehan Joyo Taman Pinang Siodarjo pada Rabu maghrib 25 Juli 2012. Jadi, bila ada pihak-pihak yang mengetahui kejadian ini, tolong beritahu saya. Bukan hanya putri yang tertukar, tapi juga Ada sandal yang tertukar. Dia ada di rumah kontrakan kami. Kami berharap dia bisa kembali pulang ke miiliknya. Dan jika anda tak mengetahui apapun, sekedar klik and share catatan ini, mungkin sangat membantu. Siapa tahu informasi ini akan sampai pada sang pemilik sandal. Amin.
NB : Damn, I’m so ridiculous. Ada nggak sih obat buat nyembuhin sifat pelupa gini. Aku takut suatu hari nanti, pas udah nikah, 10-15 tahun kemudian sifat lupaku tambah parah dan waktu jalan-jalan ke luar aku malah nyasar ke Dolly. Ouw, itu bukan sifat pelupa ya. Maksudku, aku takut suatu hari nanti, aku pada akhirnya pikun, dan saat jalan-jalan keluar lupa jalan pulang. Lupa alamat rumah. Padahal di rumah, menunggu anak-anakku yang rupawan dan istri seksi yang…… ah sudahlah.

Kafe Archemist #1

Kafe ini terletak di pinggir jalan raya yang tiap malam sering mendapat kunjungan penghobi fotografi. Fotografer-fotografer amatir menyukai jalanan ini karena banyak gedung-gedung tua, trotoar nyaman dan pohon-pohon rindang rapi berjejer di pinggirnya. Dari dalam kafe kita bisa melihat lalu lalang kendaraan. Anak-anak muda sering menghabiskan waktu terutama weekend di dalam kafe sambil melihat performance band lokal yang cukup terkenal di dalam kota tapi hanya tampil di hari-hari tertentu. Hanya ada dua orang pengunjung tersisa di kafe ini. Satu aku mengingatnya sebagai pria yang sering datang akhir-akhir ini hanya untuk bermain-main dengan  laptopnya. Dan satunya sepertinya pengunjung baru. Tak lama si pengunjung baru bangkit pergi menyisakan pria itu sendirian. Di luar sudah larut, kukira ia masih lama akan pergi dan sepertinya tak ada pengunjung baru, maka aku iseng mendengarkan music via headset. Sampai beberapa lama kemudian, saat ditengah-tengah suara Barry Manilow mengalun lembut, suara seseorang lain menyela. Mengagetkanku yang tanpa sadar sedang terpejam menikmat sambil bersenandung.
“Maaf, mbak Dina” suara lembut seorang pria menyapa.
“ah eh ya, hey! Sori. Eh sore”. Dia pasti melihat nametagku
Seorang laki-laki berkacamata menatapku dengan senyum ramah. Kemeja biru dengan rambut berombak.
“Ini tadi saya menemukan buku di sofa sebelah sana. Sepertinya milik seseorang yang ketinggalan”
“Oh ya silakan mas. Oh. Ini buku yang bagus. Pemiliknya pasti sedih jika kehilangan. Anda sungguh baik hati menitipkannya pada kami”.
“Anda tahu buku ini? Boleh saya tahu tentang apa?”
“Umm kira-kira tentang seseorang yang iri hati lalu dia berusaha menyaingi pamor seseorang dengan melebih-lebihkan kemampuannya sampai suatu saat banyak masalah-masalah menimpanya”
“Wah, bukan teladan kisah yang baik. Mawar tak perlu mempropagandakan harumnya kan? Akan banyak orang yang bersaksi untuk itu.  Bung karno perna bilang seperti itu”
“Haha benar. Saya setuju”
Kami bertukar senyum dan salam sebelum akhirnya dia pergi.
Saat aku membereskan gelas-gelas di mejanya, seseorang pengunjung perempuan masuk. Aku lalu menyambutnya.
“Selamat Datang di Archemist CafĂ©”
“Umm maaf mbak. Liat ada buku yang ketinggalan disini nggak? Warna sampulnya merah”
Rambutnya hitam. Tipe wajahnya akan membuat lelaki menoleh dua kali. Ia memakai gaun merah.
“Oh iya ada mbak”. Aku melihat dia tersenyum lega.
“Tadi ada seorang pengunjung yang menemukannya. Laki-laki. Baru aja dia pergi. Ini bukunya”
“baru aja? Laki-laki pake kacamata tadi?”
“Iya”
“Oh ya, makasih ya mbak.”
Terburu-buru dia lari ke pintu keluar. Aku keheranan. Mungkin perempuan ini mau mengucapkan terima kasih pada si laki-laki berkacamata dan berpikir masih sempat mengejarnya.
Sudah jam 12 malam. Aku memutuskan menutup kafe. Aku sudah sering mengamati pengunjung keluar masuk kafe ini. Mengetahui bagaimana secangkir kopi bukan sekadar cangkir kopi. Dalam sesapan pertama ada kisah yang ingin diceritakan. Dan dalam sesapan terakhir, sering ada kisah baru. Perempuan dan lelaki tadi mungkin akan berkencan setelah berkenalan lewat insiden buku ini. Atau mungkin juga tidak. Hanya sekedar pertemuan sekali lewat. Kopi di kafe ini sering jadi penawar. Bagi cinta. Yang dengan senang hati datang dan pergi.

Tok. Tok. Ada Bidadari. WOW

`“Tok Tok”
“Siapa disana”
“Bie..”
“Bie..sapa?”
“Bidadari”
“Hah?”
“Selamat Ulang Tahun”
Aku membuka pintu disana. Memang ada bidadari.
Dia tersenyum. Lalu mengangkat tangan kanannya. Bukan Kue Ulang Tahun. Moncong Revolver tepat diarahkan ke dahiku. Klik.
Aku terbangun. Keringetan.

Tuhan, bidadari sebenarnya itu adanya di surga ‘kan ya? Apa aku harus mati dulu kalau mau ketemu bidadari?
02.45. Dini hari. Tadi termasuk mimpi baik atau buruk?
Sunyi.
Hanya ada suara kipas angin yang dibiarkan menyala. Blackberry-ku mengedip merah berkali-kali.
Sms dari teman. Waktunya jam 12 malam tadi.
“Hey, Mas. Selamat Ulang tahun ya”
Dari bidadari lain. Bidadari yang dulu sempat kuandai-andaikan jadi pendamping. Ish. Bidadari dunia nyata. Bukan bidadari dari dunia mimpi tadi.
Tuhan, bidadari sebenarnya itu adanya di surga ‘kan ya? Apa aku harus mati dulu kalau mau ketemu bidadari?
Tak harus begitu. Aku jawab sendiri. Di dunia nyata ternyata banyak bidadari. Bersliweran. Hanya numpang lewat. Cuma buat membekukan orang-orang yang melihatnya. Membuat dunia berhenti sejenak secara relativitas-nya Einstein. Kalau Tuhan bilang, bidadari di surga lebih cantik, aku ga bisa bayangin gimana cantiknya. Kalau bidadari surga yang ribuan kali lebih cantik boleh dipandang sesuka hati, kalau bidadari dunia nyata hanya boleh dipandang sekilas DENGAN tidak sengaja, setelah itu harus memalingkan muka. Perintah yang sering tak kupatuhi. Bidadari di dunia juga tak bisa ditangkap dengan Parfum yang namanya adalah bahasa inggris dari Kapak. Tsk.
Hari ini aku ulang tahun. 24. Secara matematis, umurku 31.536.000 detik. 31.536.001 detik. 3.153.6002. tapi secara teoritis dan teknis aku belum 24. Aku kan lahir jam 10 siang. Bukan jam 0 dinihari. Orang bodoh mana yang mengikrarkan ulang tahun dirayakan pukul 12 malam. Antara amnesia dan insomnia.
Tuhan, bidadari sebenarnya itu adanya di surga ‘kan ya? Apa aku harus mati dulu kalau mau ketemu bidadari? Kapan aku ketemu bidadari duniaku sendiri?
Bersabarlah, Ahmad. Kurasa Tuhan akan menjawabnya begitu.
Shalat Tahajud aja gih. Jodoh kan di tangan Tuhan, makanya minta ama Tuhan dong biar dikasih, biar ga disita Tuhan melulu.
Aku lalu bangkit. Berganti baju lalu berwudhu. Shalat. Damai. Dzikir. Menenangkan.
Setelah ini, biasanya diisi bagian doa.
Aku doa apa ya?
Tuhan, bidadari sebenarnya itu adanya di surga ‘kan ya? Apa aku harus mati dulu kalau mau ketemu bidadari? Saya ga pengen-pengen banget bidadari yang kau janjikan di Surga-Mu itu kok Tuhan. Aku mau yang kau janjikan di dunia saja. Ga mirip-mirip bidadari gapapa kok. Saya Cuma pengen seorang gadis yang jika menatapnya saya tahu saya telah pulang. Jika saya memeluknya, saya tahu saya damai. Entah di Paris, Venesia atau cuma di depan wastafel saya merasa itu romantis. Saya cuma pengen gadis yang beberapa tahun lagi ketika saya tidur kayak tadi tiba-tiba ada yang mengetuk di mimpi saya.
“Tok Tok”
“Siapa disana”
“Bidadari”
“Bidadarinya Sapa?”
“Bidadarimu. Makmummu.”
“Oh ya?  Mau apa?”
“Bangun yuk, sayang. Shalat Tahajud bareng. Kamu jadi Imamku”
“Alhamdulillah”
“Selamat Ulang Tahun, ya”

PHP vs Modus

PHP vs Modus

Sebuah Fiksi.

“I wish I’m special. But I’m a creep. I’m a weirdo. What the hell am I doing here? I don’t belong here.
I’m a creep. I’m a weirdo”
Radiohead ~ Creep

Liriknya makjleb banget. Serasa diserang Gollum yang berteriak-teriak sambil membawa belati. “MY PRECIOUS. MY PRECIOUS!”. Belatinya langsung tertancap di ulu hati. Gollum pergi sambil tertawa-tawa. Sedang yang ditusuk hanya berbaring telentang mengutuki kebodohannya sambil berkata pelan, “TER-LA-LU”




Ini tentang seseorang.

Sudah tahu yang disukai sudah memiliki pacar, tapi toh tetap bersikeras mencoba mendekati. Pada akhirnya, rasa kemarahan, kesal dan rasa sakit bercampur aduk yang didapatkan. I’m a weirdo. What the hell am I doing here? I don’t belong here. Dia bukan pacarmu, dan tak akan pernah menjadi pacarmu. Buka matamu, lihat baik-baik. Memangnya siapa kamu? Apa yang kau lakukan? Tidak ada tempat untukmu di hatinya. Pada awalnya cinta adalah perjalanan iseng. Pada akhirnya menjadi kebiasaan. Ketika cinta tak hadir, perjalanan tak bisa dihentikan. Ia tersesat. Mencari-cari jalan pulang. Aku tanpamu buti.. Oke, cukup.




Kondisi yang dialaminya saat ini adalah apa yang disebut pakar asmara akhir-akhir ini sesuatu yang banyak terjadi di masyarakat dan menjadi fenomena psikologi, yaitu kasus PHP. Pemberi Harapan Palsu.

“Menurut aku sih PHP itu perlakuan yang nggak menyenangkan.Ibaratnya kita dibuat melambung tinggi lalu dibuat jatuh dan terluka. Orang itu hanya memberi harapan-harapan kosong untuk maksud tertentu.” (Donny MP, 17th, hobi nggambus)***
“Proses dimana seseorang menggantungkan perasaan lawanjenis atau pasangannya dengan gombalan dan harapn harapan palsu.”(Luil, 19th, anak band gaul)***
“PHP itu orang yang sukanya kasih-kasih harapan palsu, sakit sih apalagi yang di PHP-in ditungguin tapi nggak ada hasil.” (Kamal, 16th, ABG kumisan).***




Kau bisa merasakannya di air. Air yang tenang tapi ternyata di dalamnya berisi ikan piranha. Gigitannya sakit sekali. Menimbulkan efek sindrom kesal dan galau. Ingin menangis tapi lupa caranya menangis. Bawang juga ga ada.




Kau bisa melihatnya. Ia tak kasat mata. Ada pada senyum rumus Fibonacci Leonardo Da Vinci milik seorang perempuan berambut hitam lurus. Pemilik bola mata yang ketika kau memandangnya, kau akan terseret masuk. Dalam konsep lebay, pesonanya seperti bola mata Sharingan.

Kau bisa menciumnya di udara. Banyak harapan-harapan palsu bertebaran di sana. Polusi. Seperti gelembung-gelembung air yang ditiupkan dari sedotan. Pecah ketika kau menggenggamnya.

Kau bisa merasakannya di angin. Angin sepoi-sepoi di bawah pohon yang secara perlahan-lahan membuatmu mengantuk. PHP seperti itu.

Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.
PHP adalah efek chemistry fatamorgana yang tercipta dari orang yang memiliki tekanan pesona tinggi ke orang yang memiliki tekanan pesona rendah.
Semakin cakep wajah orang yang memiliki pesona tinggi dan semakin jelek wajah pesona orang yang memiliki tekanan pesona rendah, maka semakin besar peluang PHP terjadi. Dan semakin besar pula peluang untuk melakukan modus.

Menurut penelitian, baik pelaku maupun korban PHP sebagian besar adalah mereka yang memiliki status jomblo. Ah maaf, maksud saya: single.




Pada awalnya status jomblo adalah biasa saja. Sampai ada situs jejaring sosial dan orang-orang ramai secara ndeso menumpahkan kegalauan mereka. Status jomblo kemudian menjadi masalah. Epidemic. Kepanikan massal. Para kaum jomblo lalu menciptakan definisi baru untuk status mereka: Single. Apa bedanya? Jomblo itu nasib, Single itu prinsip. Sebuah definisi mantap untuk alibi yang sempurna. Sempoa!




“Ciyee.. Dia pacar kamu ya?”
“Bukan. Temenku!”
Pada awalnya, seseorang santai saja dengan statusnya yang tak memiliki pacar. Sampai orang yang disukai seseorang tersebut berkata, “Dia bukan pacarku”.  Tak punya pacar menjadi masalah. Karena diucapkan oleh orang yang dianggap special, perkataan ini jadi sangat menusuk dan membuat makjleb. Kondisi yang biasanya diikuti dengan seseorang berkata, “Puk puk”




Dia lalu mereplay memori di otak. Karena mungkin dia saja yang selama ini terlalu GR, jadi bukan salah si cewek yang melakukan PHP.
-          Makan bersama berdua. Checked. √

“Berapa total makannya?”
“G usah lah. Biar aku yang bayar.”
Lalu berujung makan indomie instant di kos-kosan selama seminggu.

-          Maen sepik-sepikan ala Andre Taulany. Checked. √

“Kamu kok baek banget sih”
“Cuma dibilang baek aja? Ga dikasihin apa-apa gitu, kek?”. Ciuman misalnya.
“Aku kasih hatiku aja, gimana?”. Ia mangap. Emoticon titik dua huruf D besar. “Hahah. Becanda kok”. Ia mingkem. Emoticon huruf T besar, titik, huruf T besar.

-          Nonton film berdua. Checked. √

Lewati saja bagian ini. No comment. Biarlah menjadi rahasia. Akan kuceritakan lain waktu.

-          SMS dan telepon-teleponan sampai larut malam. Checked. √

“Makasih ya udah ditemenin ngobrol”. Lalu ditinggalin tidur. Kejebak circle temenin-aku-ngobrol-sampe-aku-ngantuk-zone. Beda tipis dengan kejebak friend-zone.

-          Mengantar jemput dia dengan sepeda motor. Checked. √

Melewati jajaran lampu-lampu kota. Senyuman bulan. Sadel sepeda motornya senang. Ia tak lagi perawan. Sayang mereka berdua ga sampai nyabuk. Ga boleh dong. Apalagi dia pake ransel. Jadi ga bisa modus berhenti ngerem tiba-tiba. Ada peraturan tak tertulis, kalau bukan pacar tas ransel yang nyetir di taruh di belakang punggung, kalau pacar tas ditaruh di dada. Karena tas ransel dipakai di pungggung, jadi dia harus memajukan bokongnya agar sadelnya cukup untuk dua orang. Panas dan sungguh tak nyaman. Jika ini berlangsung terus, dia berpikir bokongnya bisa flat.

-          Jalan-jalan berdua di hari libur. Checked. √

Ketawa-tawa bak orang pacaran. Indahnya. Menaktrir si cewek lagi makan berdua. Romantis. Makan indomie lagi di akhir bulan. Meringis.

-                      Hangout berdua malam Minggu. Checked. √

Kencan on the weekend. Menertawakan para jomblo-jomblo yang galau. HAHAHA. Lalu bergabung dengan mereka begitu si cewek kembali bersama pacarnya. Galau massal di dunia maya. HUHUHU.

Dia mengecek kembali list di atas. Kesimpulannya, selama ini dia hanya menjadi donator makan dan tukang ojek tak resmi si cewek. HAHAHAHASUU.

Tentu saja PHP ini menjadi kasus yang mudah. Langsung saja nyatakan cinta dan mengkonfirmasi perasaan si cewek balik. A piece of cake. Jika dia juga mencintainya, Alhamdulillah ya sesuatu. Jika bertepuk sebelah tangan, sabar aja ya. Puk puk. Tapi kasusnya menjadi sulit karna si cewek begitu setia dengan pacarnya. Mau tak mau dia memutuskan dalam posisi menunggu. Menyerobot si cewek dari pacarnya adalah menyinggung manhoodnya sebagai lelaki. Tak akan dia lakukan.

Oke cukup. Kondisi ini ia merasa malah menjadi tertawaan para laki-laki di seluruh dunia. Pada seusianya, laki-laki di tempat lain mungkin sudah mahir menjalani praktek permodusan. Tentang bagaimana cara menggebet cewek secara mudah, bergonta-ganti dan mengambil keuntungan dari mereka. Bukan sebaliknya. Tolol. Sebagai orang yang berkeinginan menjadi playboy dalam buku catatan mimpinya, si cowok ini merasa gagal. Di-PHP-in menjadi kasus lebih parah daripada ditolak. Dia mencari di google, sedikit keterangan tentang ciri-ciri cewek pemberi PHP. Yang lebih banyak malah sebaliknya, ciri-ciri cowok pemberi PHP. Dalam kasusnya, ini sungguh ngenes. Titik dua kurung buka.
Maka sejak saat ini ia memutuskan, dia tak akan lagi mencoba mendekati si cewek. Sudah cukup. Sms dan teleponnya tak akan  ia balas. Permintaan tolongnya tak akan lagi ia penuhi. Makan? Bayar sendiri dong! Enak saja. Emangnya ia cowok apaan. Begitu pikirnya. Semua orang memiliki batasnya masing-masing, bukan.
Semangat. Masih banyak cewek yang bisa digebet.




Tliit. Tliliit. Hapenya bergetar. Ah ada sms masuk.
Dari si cewek. Panjang umur bener.
“Keluar yuk. Nonton”
Si cowok mengetik secepat kilat.
“Oke, aku jemput ya. :D”
Si cowok nyengir. Hari ini akan jadi malam yang indah. Menghabiskannya dengan cewek yang disukai. Jomblo bahagia. HEHEHE.
Eh tunggu..
….
….
……
Sialan !
Brengsek !







Quote :
“Cowok brengsek adalah cowok baik-baik yang disakiti” ~ @tlvi

“Ga apa-apalah ga bisa macarin dia, yang penting bisa modusin dia” ~ Mas Wahid

Oke guys!! NO MORE PHP! It’s time for MODUS ATTACK to strikes back!!

Sebuah Fiksi. Ya mungkin ada non-fiksi sedikit.


Ttd
D.
Calon Playboy




*** kutipan wawancara diambil dari Sumber: http://remaja.suaramerdeka.com/2012/06/14/kata-mereka-pemberi-harapan-palsu-php-itu-apa-sih-part-2/