Gadis yang memiringkan kepala
Dia tidak cantik. Juga
tidak jelek. "Kau terlihat cantik ketika memiringkan kepalamu 30
derajat". Sejak saat itu dia memiringkan kepalanya.. saat berbicara pada
semua orang. Padaku. Pada teman-temannya. Pada keluarganya. Semuanya
ikut memiringkan kepala jika bicara padanya. Kami jadi sering sakit
leher. Bahkan dokter yang memeriksa kami juga memiringkan kepala. Kami
jadi semacam terkena virus syndrome.
Sudah cukup. Kataku. Tak perlu
jadi bodoh dan menyiksa diri untuk cantik. Tuhan menganugerahiku mata
yang memujamu. Aku lalu menikahinya. Dan dia tak pernah memiringkan
kepala lagi.
Sebagai gantinya, ia memintaku mencium keningnya setiap pagi.
Tak masalah.
Aku berimprovisasi.
Aku berucap, "Selamat pagi, bidadari". Setiap kali setelah aku selesai mencium keningnya.
Gadis mawar yang tak pernah mendapatkan mawar
Gadis
itu bernama Rosita. Dia cantik, memukau dan senyumnya melepaskan anak
panah cupid ke hati lelakii yang melihatnya. Dan aku si pemimpi. "..sungguh mati aku jadi penasaran... Oh gadis cantik yang menjadi rebutan..". Rhoma Irama memahami kisah ini. Lagu ini yel-yel kami.
231.
Itu jumlah laki-laki yang mengejarnya. Itu bila aku tak salah hitung.
Anehnya diantara kumbang-kumbang yang berkerumun, dia datang padaku.
Hai.
Aku memilih dan menerimamu. Maukah kau memelihara senyumku ini
seumur hidup. Tanyanya. Tantangnya. Aku menonjok pipiku sendiri. Mimpi
yang indah jdi nyata. Laki-laki tak boleh ditantang. Itu bisa membuatnya
tak mengenal kata pecundang. Apalagi oleh gadis impiannya. Maka menjadi
pahlawan bisa menjadi cita-citanya.
Mengapa kau memilih dan
menerimaku. Aku bertanya-tanya. 10 tahun kemudian baru aku tahu. Namaku
Rosita. Rose. Ucapnya merdu. Suaranya adalah deru angin lembut di taman
bunga lavender. Aku Gadis Mawar. Yang tak pernah mendapatkan mawar. Ia
tertawa geli.
Aneh sekali. Dan diantara 231. Aku satu-satunya yang
memberi mawar. Ia memelukku. Terima kasih. Telah mencintaiku. Tuhan, aku
bahagia. Syukurku.
Lukisan yang ia gambar di puzzle-ku
Kau
ingin tahu bagaimana pertama kali aku jatuh cinta padanya? Sederhana.
Aku suka bermain puzzle. Semuanya lengkap kususun. 113 potongan.
Mozaik-mozaik yang menyusun image sejarah hidupku.
Tapi ada satu
potong puzzle tak kutemukan. Persis ditengah. Aku keliling dunia
mencarinya. Galau dan bahagia aku mencarinya. Lalu aku pulang. Bendera
putih.
Aku masih tak menemukan potongan puzzle itu. Halo. Dia
menyapaku. Mengambil pensil warna dan melukis ruang kosong puzzleku.
Begini 'kan?
Seluruh puzzle ditambah lukisannya membentuk gambar.
Cakrawala. Semesta. Lengkap. Siapa namamu? Cinta. Menikahlah denganku!
Baiklah.
Ia tersenyum.
Aku bagai suku pagan yang menyembah dewi matahari. Setiap hari
Mbonek #2
Catatan Kecil Saat Mbonek #2
“….Tahun 1932 di Stadion
Tambaksari Surabaya, untuk menyaingi pertandingan bola yang digelar
pihak Belanda, diadakan pertandingan sepakbola ekshibisi berisikan para
petinggi dan kalangan atas pribumi Jawa, Cina, dan Arab dari kalangan
pengusaha dan partai politik. Bertindak sebagai wasit adalah seorang
wanita berkebaya dan kain jarit bernama Nyonya Soedjono yang
sangat tegas. Pertandingan berjalan seru dan sering diiringi gelak tawa
karena kejadian lucu yang terjadi di lapangan. Berakhir imbang 0-0, dan
pemenang akhirnya ditentukan lewat tanding Soet (permainan dengan
jempol, kelingking dan telunjuk)..”.
(sumber: Surabaya Tempo Doeloe ~ Dukut Imam Widodo)
(sumber: Surabaya Tempo Doeloe ~ Dukut Imam Widodo)
Ada
satu pengalamanku yang menarik ketika menonton di stadion. Gelora 10
November saat itu, sekitar awal Agustus 2011. Pertandingan ujicoba
antara Persebaya melawan Timnas Indonesia U-23 Sea Games dan digelar di malam hari. Beberapa
minggu sebelumnya, aku baru membeli kamera Canon 1100D. Jadi karena
masih senang-senangnya memotret, aku membawanya saat menonton Persebaya.
Menit-menit awal, aku dan kakakku memilih menonton dibawah papan skor.
Karena ingin mendapatkan spot obyek landscape yang menarik, aku
nekat naik ke pagar stadion, duduk manis disana lalu memotret. Tak
dinyana, baru beberapa potret (jelek-jelek juga hasilnya T.T), terdengar teriakan dan umpatan khas
Suroboyo. Aku menoleh, ternyata itu ditujukan padaku. Umpatan-umpatan
bahasa Suroboyoan (yang tak akan kutulis disini, karena terlalu
keras dan vulgar) bernada ancaman dan menusuk telinga. Rupanya mereka
tak suka dan protes karena aku menghalangi pandangan. Aku dalam hati
ketakutan tapi tetap bersikap tenang (iya dooonngg..). Aku mengalah,
lalu perlahan turun dari pagar pembatas. Aku tak mau terburu-buru dan
terlihat ketakutan sehingga teman-teman bonek ini malah puas dan semakin
berani meneriaki. Meskipun begitu, efeknya terasa. Aku shock dan
ngambek enggak memotret lagi selama setengah jam. Sejak lulus sekolah
SD, aku hampir tak pernah konflik atau bertengkar dengan seseorang. Lah
ini, tiba-tiba disoraki dan dicaci puluhan bonek. Mengerikan,
mengerikan. Butuh beberapa lama untuk mengembalikam moodku
memotret lagi. Sorak-sorai penonton yang melihat pertandingan masih
riuh. Lalu kulihat disana ada anak remaja yang juga ikut memanjat dan
duduk di pagar tapi santai-santai saja tak ada yang meneriaki. Ia asyik
memutar-mutar scarf-nya. Ffffffff*****... Aku gondok.
Beberapa waktu kemudian, setelah menonton beberapa pertandingan setelah itu, akhirnya aku menyimpulkan sendiri. Ada peraturan tidak tertulis, atau mungkin semacam kerelaan bersama : Hanya dirigen Bonek yang boleh berdiri atau duduk di atas pagar. Kalau kau ingin duduk disana, tunggulah sampai pertandingan mendekati selesai ketika ketertarikan mereka tentang seorang cupu yang nekat naik pagar menurun. Atau berdandanlah se-ekstrim mungkin sebagai suporter, seperti mencat tubuhmu dan wajahmu. Barulah dengan kerelaan hati bersama, mereka akan mengijinkanmu duduk manis diatas pagar. So sweet. Jika tidak, mereka tidak akan mengijinkanmu yang bertampang biasa-biasa saja seenaknya duduk diatas pagar. So kampret.
Beberapa waktu kemudian, setelah menonton beberapa pertandingan setelah itu, akhirnya aku menyimpulkan sendiri. Ada peraturan tidak tertulis, atau mungkin semacam kerelaan bersama : Hanya dirigen Bonek yang boleh berdiri atau duduk di atas pagar. Kalau kau ingin duduk disana, tunggulah sampai pertandingan mendekati selesai ketika ketertarikan mereka tentang seorang cupu yang nekat naik pagar menurun. Atau berdandanlah se-ekstrim mungkin sebagai suporter, seperti mencat tubuhmu dan wajahmu. Barulah dengan kerelaan hati bersama, mereka akan mengijinkanmu duduk manis diatas pagar. So sweet. Jika tidak, mereka tidak akan mengijinkanmu yang bertampang biasa-biasa saja seenaknya duduk diatas pagar. So kampret.
Pertandingannya sendiri berakhir dengan skor 1-3 untuk kemenangan Timnas. Entah harus sedih atau seneng.
Pemandangan Sebelum Pertandingan: Anak kecil duduk di atas pagar
Pemandangan Sebelum Pertandingan: IN-DO-NE-SIA
Pemandangan Sebelum Pertandingan:Bonek: Bonek sudah memadati stadion
Pemandangan Sebelum Pertandingan: Nyanyian dan kibaran bendera diterangi cahaya lampu
Pemandangan Sebelum Pertandingan: Hampir Full
Saat-saat masih tidak 'diperhatikan' dan berhasil motret 'cuma' satu foto. Hikss
Akhirnya turun dari pagar lalu memotret kerumunan penonton dari bawah pagar dan suasana pertandingan dari barisan atas bangku. Huft
Habis turun dari pagar, masih shock dan mencoba menenangkan diri. ealah malah melewatkan gol pertama Timnas. Argh
Cuma bisa motret perayaan golnya. Kembang Api rek
Hadiah Penalti untuk Persebaya yang dieksekusi Otavio Dutra yang harus diulang dua kali. Gol terakhir di pertandingan itu.
Red Flare, Kembang Api, Teriakan, Sorak-sorai, Asap, dan kibaran syal bendera. Perayaan khas bonek dan suporter Indonesia
Pertandingan yang juga bebarengan dengan berpulangnya Pelatih Legendaris Persebaya dan Indonesia, Rusdy Bahalwan.
Pertandingan selesai. Skor 1-3. Salaman dulu sebagai tanda sportivitas
Foto bareng bonek-bonek cilik
"Ritual" khas penonton di Gelora 10 November setelah pertandingan. Masuk ke lapangan dan menghampiri pemain. Entah untuk sekedar foto bareng atau bila beruntung bahkan mendapat suvenir jersey pemainnya.
Aku akhirnya ikut-ikutan juga, hehe. "Blusukan" ke lorong ruang ganti pemain.
Asisten Pelatih Widodo C. Putra
Asisten Pelatih Aji Santoso
(Mantan) Pacar Andik Vermansyah: Tiara
Diego Michiels ternyata pake gigi emas, bok. DUA BIJI. CLINK !
Hasyim Kipuw
Our Local Pride: Andik Vermansyah
Patrich Wanggai
Abdul Rahman
Ayo mulih, rek!
Meskipun tadi di awal-awal pertandingan dapet "pengalaman" buruk, aku tetap senang datang ke stadion meski pengalaman satu ini rasanya ingin kuhapus saja.
”Iwak peyek.. iwak peyek sego jagung..”
”Sampe elek.. sampe tuwek.. mendukungmu”
Mbonek #1
Catan kecil saat (pertama kali) mbonek
alias nonton persebaya di stadion
Di kalangan pendukung persebaya atau sering disebut bonek, ada satu quote yang sering diucapkan, ”Lek aku Bone, kon kate lapo?”. Yang artinya, ”Kalau aku Bonek, kau mau apa?”. biasanya diucapkan untuk menantang orang-orang yang memusuhi mereka atau memiliki pandangan negatif tentang seorang bonek, wajar bila melihat sentimen yang berkembang di masyarakat. Aku lahir dan besar di Surabaya, dan otomatis sangat menggilai tim sepakbola Persebaya. Apakah aku bonek? Aku sejak kecil hanya menonton Persebaya dari layar kaca. Menonton langsung di stadion malah setelah lulus STM dan bekerja. Sentimen yang berkembang di masyarakat bahwa bonek itu urakan, keras dan suka berkelahi membuatku saat kecil dilarang menonton di stadion secara langsung. Saat pertama kali menonton langsung di stadion, rasanya luar biasa. Bergabung diantara penonton yang serba hijau sambil berjingkrakan, menari dan menyanyikan chant-chant dukungan mengikuti iringan dirijen dan musik drum rasanya menyenangkan. Ikut mengumpat ketika gawang kebobolan atau ketika peluang gagal dan ikut bersorak gembira ketika pemain Persebaya mencetak gol.
alias nonton persebaya di stadion
Di kalangan pendukung persebaya atau sering disebut bonek, ada satu quote yang sering diucapkan, ”Lek aku Bone, kon kate lapo?”. Yang artinya, ”Kalau aku Bonek, kau mau apa?”. biasanya diucapkan untuk menantang orang-orang yang memusuhi mereka atau memiliki pandangan negatif tentang seorang bonek, wajar bila melihat sentimen yang berkembang di masyarakat. Aku lahir dan besar di Surabaya, dan otomatis sangat menggilai tim sepakbola Persebaya. Apakah aku bonek? Aku sejak kecil hanya menonton Persebaya dari layar kaca. Menonton langsung di stadion malah setelah lulus STM dan bekerja. Sentimen yang berkembang di masyarakat bahwa bonek itu urakan, keras dan suka berkelahi membuatku saat kecil dilarang menonton di stadion secara langsung. Saat pertama kali menonton langsung di stadion, rasanya luar biasa. Bergabung diantara penonton yang serba hijau sambil berjingkrakan, menari dan menyanyikan chant-chant dukungan mengikuti iringan dirijen dan musik drum rasanya menyenangkan. Ikut mengumpat ketika gawang kebobolan atau ketika peluang gagal dan ikut bersorak gembira ketika pemain Persebaya mencetak gol.
Bagaimanapun, sampai sekarang karena kesibukan bekerja (ceileh... padahal cuma
buruh pabrik), intensitas menonton langsung di stadion hanya beberapa kali.
Ikut dalam tur luar kota saat Persebaya bermain tandang juga belum pernah.
Temenku yang bonek asli (baca: selalu menonton di stadion, ikut tur luar kota
dan bahkan terjun langsung saat berkelahi dan melempar-lempar batu dengan
suporter musuh) pasti kecewa dan mengejek aku bila tahu hal ini. Haha. Mungkin.
Dari dialah, aku tahu banyak cerita-cerita seru dan pengalamannya saat jadi
bonek. Cerita temannya yang dipukuli suporter musuh, merencanakan balas dendam
saat arak-arakan suporter musuh lewat, cerita tentang temannya yang ditangkap
polisi dan dipenjara karena terbukti menusuk suporter musuh sampai tewas di
kereta api, isu bagaimana temannya dihajar sipir karena pesanan keluarga
korban, dan banyak cerita mendebarkan lainnya yang tak pernah aku bayangkan.
Iwak
peyek iwak peyek sego jagung
Sampe
elek sampe tuwek
Sampe
matek mendukungmu
Wis suwe aku ngenteni kowe
Rino
wengi ora nyambut gawe
Persebaya
kudu dimenangi
Arek
bonek mendem rame-rame
Dua Bunga Tidur, Mimpi
Catatan Kecil Tentang Mimpi, bunga tidur
Coba pikir, sudah puluhan tahun kita hidup dan berapa malam
kita lewatkan dengan tidur. Dan dalam tidur tadi, berapa banyak mimpi yang kita
alami mulai dari bayi sampai usia sekarang. Menurut fakta penelitian saat bayi kita sudah bermimpi, meski tentu saja
kita tak ingat apa mimpi kita saat itu. Omong-omong saat mengubek-ubek data
harddisk laptopku, aku menemukan beberapa catatan harian berisi mimpi-mimpi
yang kualami. Tak banyak, hanya tiga biji. Bagaimanapun, aku ingin menulisnya
dalam blogku. Ini diantaranya :
8 Mei 2011
Sebut saja dia Anggun. Dia adalah gadis yang dulu diam-diam
kusukai saat SMP. Dan ya, dia muncul
di mimpiku tadi malam. Kok bisa, padahal aku udah lama lupa. Didalam
mimpiku, aku menjemput dia di kampusnya, yang anehnya kampus itu terletak di
lokasi dimana SD-ku berada. Aku terlihat keren saat itu : memakai jaket kulit
dan mengendarai motor sport. Aku penuh percaya diri menunggunya di depan
gerbang kampus. Banyak teman prianya memandangku iri. Lalu dia datang dengan
senyum manisnya, duduk di sadel belakang dan dengan erat memelukku dari
belakang. Waow ! Aku seneng dong.
Sampai-sampai aku berpikir, “Ini mimpi ya?”
(lho?). Tapi baru beberapa meter sesuatu terjadi. Bagaimana rasanya
emosi kita berubah dalam sekejab? Mulanya seneng lalu sedih. Seperti
enak-enaknya makan eskrim lalu tiba-tiba jatuh kecemplung lubang got dan basah.
Dalam mimpiku, saat enak-enaknya menggonceng aku tiba-tiba menabrak becak. Ya,
becak saudara ! WTH ! Sepeda motorku, aku dan Anggun baik-baik saja. Tapi becak
dan pengendaranya sampai terbalik dan menghantam peralatan dapur di pinggir
jalan milik ibu-ibu yang sedang memasak untuk sebuah pesta. Rupanya sepeda
motor yang kukendarai punya efek hantam setara kereta api. (Bagaimana mungkin?? Oh ya, ini mimpi, jadi semua
bisa terjadi). Aku mengumpat ”Janc*k”. Umpatan khas Suroboyo. Oh ya, Anggun juga ikut-ikutan mesoh ”Janc*k”. Aku jadi kaget. Aku
lalu permisi dan mengecek hasil perbuatanku. Bagaimanapun, meski dalam mimpi
aku tak berinisiatif dihakimi massa
karena melakukan tabrak lari. Dan selanjutnya… ah aku lupa. Gitu ae. Pokoknya aku bener-bener ga ngerti. Bahkan
dalam mimpiku pun aku juga ketiban sial.
28 Mei 2011
Malam tadi aku mimpi dalam sebuah pasar malam yang penuh dengan
stand-stand luar biasa. Pasar malam
itu ramai dan anehnya ada di dalam ruangan aula besar. Di udara banyak melayang
kupu-kupu tiga dimensi colorful dan bercahaya: ada yang berbentuk kotak dan ada yang berbentuk
kertas. Kemudian ada stand menebak perbedaan: dimana ada lukisan besar di
poster belakang dan ada seorang peraga manusia di depannya yang memakai kostum
(hampir) sama dengan lukisan di belakangnya. Pengunjung disuruh menebak
perbedaan peraga dengan lukisan. Peraga manusianya memakai kostum luar
biasa dan berwarna-warni. Aku mencobanya dan berhasil menebak penuh lima perbedaan. Peraga
manusia itu lalu memberiku hadiah : semacam tongkat pendek dengan ujungnya ada semacam
bola terbuka yang bercahaya berganti-ganti dari merah, biru dan hijau.
Rabu 7 Maret 2012
Cuma mau share. Tadi pagi aku mimpi CIUMAN SAMA SYAHRINI di
KOLAM RENANG !! Muahahaha.. Aneh banget. Lha wong aku ga ngefans atau mikirin
apapun tentang dia. Ckckckck
Oke, Lanjut.
Suatu Minggu di Dangdut LIVE
Catatan beberapa tahun yang lalu
8 Mei 2011. Libur dan sepeda motorku dipake kakak. Nggak ngapa-ngapain di rumah. Asli bosen. Secara nggak punya pacar (abaikan fakta ini). Akhirnya ngirim SMS ke kakak:
"Dimana? Aku mau keluar. Bosen di rumah”
8 Mei 2011. Libur dan sepeda motorku dipake kakak. Nggak ngapa-ngapain di rumah. Asli bosen. Secara nggak punya pacar (abaikan fakta ini). Akhirnya ngirim SMS ke kakak:
"Dimana? Aku mau keluar. Bosen di rumah”
Ga lama kakak kembali. “Ayo, kuajak kau ke suatu tempat”.
“Kemana?” tanyaku.
“Ke JTV. Liat dangdut LIVE”.
Aku sempet membeku sebentar untuk
mencerna informasi ini. Li-at-dang-dut. HAH !!.
“Cuma mau liat proses pembuatannya aja di studio”.
Di stasiun TV lokal memang ada
beberapa acara yang penonton bisa masuk gratis dan melihat langsung. Salah
satunya: Acara Stasiun Dangdut. Asli, ini bukan ide yang kuinginkan untuk
jalan-jalan keluar rumah, tapi daripada nggak ngapa-ngapain, akhirnya aku ijin
2 menit untuk mandi. Ya, cukup 2 menit. Kakak juga nyuruh pake sepatu, karena
syarat masuknya harus pake sepatu. Aku langsung disodorin untuk make sepatu
vantovel karena sepatuku ketinggalan di tempat kos. Ga ada kaos kaki, jadi
akhirnya aku terpaksa tanpa kaos kaki, asli setelah itu kaki gerah abis.
Kepanasan.
Dalam perjalanan, aku agak
sedikit excited juga, aku udah mau update status facebook dan twitter buat
ngabarin:
“Guys, liat stasiun dangdut JTV sekarang. Bila ada cowok culun
berkacamata asyik joget-joget aneh, itu bukan aku. Aku mungkin asyik berdiri di
posisi terdepan dan strategis untuk mencoba memotret penyanyi ceweknya”.
Kalian tahu kan? Pakaian mereka sexy-sexy. Aku belum
pernah ke diskotik. Jadi ini kesempatan yang baik. Errrr… begitulah. Itu
rencananya.
Ternyata kakak juga ngajak
temennya. Jadi kita berangkat kesana pake dua motor. Nama temannya kita sebut
saja Bambang. Ya, Bambang. Tampangnya Bad Boy, tapi ekspresinya mengisyaratkan
dia belum pernah mendapatkan sentuhan wanita: melas abis. Dandanannya pake jaket
merah dan celana jins kesempitan ala changcuters. Melihat Bambang aku jadi
curiga sebenarnya ide siapa sebenarnya di hari libur malah memilih menghabiskan
waktu menonton dangdut di studio TV lokal. Antara memang inign menonton proses
pembuatan siaran di studio atau sebenarnya mengapresiasi visualisasi penyanyi
dangdutnya yang suka bergoyang ekspresif.
Sampai disana, acaranya udah
setengah jalan, dan cukup banyak juga yang nonton. Aku nggak tertarik liat
penyanyinya, Aku lebih tertarik sama para penontonnya. Aku penasaran, tipe
orang macam apa yang menghabiskan hari minggu dengan menonton acara dangdut.
Dan inilah beberapa diantaranya:
- Kakek-kakek yang antara entah lagi puber kedua, masa
kecil kurang bahagia, atau masih energik dan ga tau harus ngapain di hari minggu
atau sebenarnya tukang becak yang lagi refreshing.
Aku lebih suka mempercayai yang terakhir. Dari yang kuperhatikan, ada dua kakek
yang asyik joget: kakek gundul berkacamata hitam memakai kaos bertuliskan “RASA
SAYANG”. Sebut saja kakek Nomor 1. Satunya lagi kakek ini juga berkacamata hitam,
tapi ia memakai topi ala TOMPI, slayer kotak-kotak di leher, celana jins, dan baju
hem dimasukkan plus sepatu vantovel. Keren. Sayang si kakek ini tidak memakai
aksesori untuk menutupi gigi ompongnya mengingat ia sangat murah senyum. Kita
sebut kakek ini: Kakek Nomor 2 . Si kakek No. 2 jika joget lebih heboh dari
lagunya. Nada lagunya standar, tapi si kakek berjoget ala SKA maju mundur,
dipadu dengan gaya kayuhan ala tukang becak lagi genjot, dan kadang dicampur
gaya pencak silat. Heboh. Jelas kakek No. 2 punya energi yang memang harus
disalurkan. Sedangkan si kakek No. 1, aku nggak terlalu merhatiin, tapi dia
sempet ngagetin aku di pintu keluar waktu acaranya udah kelar: terlihat
berlari-lari diantara lorong sambil make wig panjang, aku sempet ngira gayus
juga mbayar petugas keluar sel untuk nonton dangdut. Setelah itu, aku tahu itu
ternyata ulah iseng ibu-ibu (sepertinya teman-teman rombongannya yang juga ikut
menonton dangdut) yang bersuka ria memasang wig di kepala plontosnya. Entah
bagaimana mereka membujuk kakek ini untuk memasang di kepalanya. Mereka
benar-benar kelompok yang rukun dan tahu caranya bersenang-senang. Luar biasa.
- Kelompok penggemar dangdut yang memang khusus datang
menonton dangdut dan berjoget ria. Mereka kompak memakai kaos bertuliskan nama
kelompok mereka, contohnya: Paguyuban O.M. Candra Kirana. Anggotanya hampir
semua ibu-ibu dan bapak-bapak. Ada juga anggotanya yang gaul dan mencat
rambutnya pirang atau merah (aku jadi teringat TKW Hongkong yang kehilangan
jati dirinya lalu mencat rambut mereka karena beberapa alasan). Mereka semua
asyik joget bareng dan benar-benar menikmati acara ini.
- Remaja-remaja cowok berpakaian jins ala changcuter yang
entah udah bosen gentayangan di mall lalu nyasar kemari. Mungkin di imajinasi
mereka ini mirip mengikuti acara musik Dahsyat
- Pasangan suami istri yang juga membawa anaknya yang
masih balita. (Tontonan Keluarga?)
- Pria-pria kekar berotot, wajah preman tapi berjiwa
dangdut. Aku sempet merhatiin, ada pria berotot yang goyangannya luwes banget
ala penari ular. Nada lagunya standar, tapi jogetnya slow motion. Luar biasa.
Kontras banget dengan jogetnya si kakek No. 2.
Ya, ternyata menghabiskan waktu
menonton dangdut live di studio bukan rencana yang buruk
Langganan:
Postingan (Atom)




































