Surabaya Urban Culture Festival 2016

Surabaya Urban Culture Festival 2016

Surabaya Urban Culture Festival 2016:
Festival Sangangpuluhan

Tunjungan. 29 Mei. 2016

Menampilkan tema dan pernak-pernik tahun '90an

 

Surabaya City Tour: Museum Kanker Indonesia

Surabaya City Tour: Museum Kanker Indonesia 

"Tahun 2030: 1 dari 4 orang adalah penderita kanker"


Museum Kanker Indonesia di Jl. Kayun Surabaya memajang koleksi kanker yang terlengkap dan terbesar di dunia. Museum ini juga satu-satunya yang memadukan konsep edukasi, wisata dan kesehatan. 
Konsep museum memadukan indra visual dan indra peraba. Dimana selain melihat, pengunjung juga dapat meraba koleksi yang dipajang secara langsung. Ke depan, museum ini berharap juga dapat menghadirkan koleksi dimana pengunjung dapat menggunakan indra pembau. 
Pencegahan dini dengam SARARI (Periksa Payudara Sendiri), penyuluhan dan seminar menjadi agenda utama agar perempuan sebagai penderita kanker terbanyak tidak semakin meningkat. 
Kunjungi museumnya, pelajari info lebih lengkap, sebarkan awareness tentang kanker dan kalau perlu jadilah relawan kanker.. 

 

Surabaya City Tour: Kampung Maspati

Surabaya City Tour: Kampung Maspati


Kampung Lawas Maspati. Kampung wisata khas budaya Surabaya. Menampilkan kelebihan-kelebihan seperti bangunan kuno bersejarah, aneka jajanan khas Maspati, dolanan jaman dulu, suasana green & clean di setiap sudutnya, produksi kerajinan & kreasi daur ulang, musik patrol yang langsung menyambut tamu pengunjung yang datang, serta tentu saja senyum dan keramahan dari warganya..
 

 Mainan Robot Mini dari Korek Api bekas.
Hasil karya kreativitas salah satu warga kampung lawas Maspati. Pembuatnya bernama Pak Imam, pensiunan Telkom. Selain robot, ada juga helikopter, rumah mini dan mainan unik lain. Semuanya terbuat dari korek bekas. Harga yg dibanderol antara 20.000-80.000 tergantung kesulitan pembuatan dan pencarian bahan. Mainan ini adalah salah satu dari banyak stand baik kuliner dan kreasi daur ulang hasil kreatifitas warga Kampung Lawas Maspati Surabaya.



Di Bawah Bendera Revolusi.
Buku Fenomenal karya bung Karno. Jilid II ini berisi pidato-pidato Bung Karno. Buku ini termasuk kategori langka yang di tangan kolektor harganya mencapai 5 juta sampai 500 juta. Saya bahkan pernah tak sengaja melihat sebuah situs yang menawarkan harga 1 miliar lebih untuk edisi lengkap Jilid I dan II. Tapi bagi yang tak tahu mungkin harga buku ini sama saja dengan buku bekas lain di loakan. Sekitar 15ribuan. Buku ini saya temui diatas meja sebuah rumah kuno di Kampung Lawas Maspati. Saya ngeri kalo ada orang yg tau harga buku ini dan mencurinya mengingat pengunjung bebas keluar masuk rumah dengan sedikit pengawasan. Terlepas itu semua, ironis bahwa buku ini lebih terkenal sebagai buku koleksi daripada bahan ajar di sekolah-sekolah mengingat isinya yang ditulis oleh salah satu pendiri negeri ini.

SURABAYA CITY TOUR: RUMAH ROESLAN ABDULGANI

SURABAYA CITY TOUR: RUMAH ROESLAN ABDULGANI

Surabaya City Tour: Waroeng Omah Surabaya (WOS). Waroeng Omah Surabaya adalah rumah kelahiran Roeslan Abdulgani. 
Beliau berperan penting pada peristiwa 10 Nopember '45.
Semasa hidupnya ia pernah menjadi Menteri Luar Negeri (era Bung Karno), Menteri Penerangan dan Duta Besar untuk PBB (era Suharto). Saat ini rumah kelahirannya yang beralamat di Jalan Plampitan VIII ini menjadi cagar budaya dan dikelola sebagai cafe sekaligus museum yang memajang memorabilia foto, buku dan peninggalan beliau. 


SURABAYA CITY TOUR: RUMAH HOS TJOKROAMINOTO

HOS Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional pimpinan Sarekat Islam di masa kebangkitan nasional. 
Di masa hidupnya ia dikenal sebagai Raja Tanpa Mahkota karena besarnya pengaruh politiknya di Indonesia di masa itu. Ia juga mendapat julukan sebagai Guru Bangsa karena berkat bimbingannya lahirlah berbagai tokoh-tokoh nasional yang berpengaruh seperti Sukarno (pendiri PNI dan Proklamator), Semaun, Muso (tokoh PKI), Tan Malaka, Kartosuwiryo (tokoh DI/TII), dan banyak lagi. 
Profilnya kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2015 lalu oleh sutradara kolosal Garin Nugroho, dengan judul "Guru Bangsa. Tjokroaminoto".
Rumahnya sampai sekarang masih terawat dan sering dijadikan tempat jujukan wisata sejarah.